Selasa, Mei 28, 2024

Dejavu Masa Ujian: Kisah Seorang Ibu dan Tips Praktis untuk Orang Tua

 



Setiap akhir semester selalu terasa seperti dejavu bagi saya. Rasanya baru kemarin anak-anak menghadapi ujian, dan kini mereka harus melakukannya lagi. Sebagai ibu rumah tangga sekaligus seorang blogger, saya sering kali mendapati diri saya diliputi kekhawatiran saat masa ujian tiba. Saya tahu banyak orang tua di luar sana yang merasakan hal yang sama. Mari kita bicarakan, berbagi pengalaman, dan menemukan cara untuk menghadapi masa-masa penuh tekanan ini.

Kekhawatiran yang Selalu Ada

Masa ujian selalu membawa serangkaian kekhawatiran. Apakah anak-anak sudah cukup belajar? Apakah mereka mengerti materi pelajaran? Apakah mereka akan mendapatkan nilai yang baik? Semua pertanyaan ini selalu berputar di kepala saya.

Saya ingat ketika anak pertama saya, Rina, pertama kali menghadapi ujian di SD. Saya benar-benar cemas. Saya memastikan dia belajar setiap malam, tapi saya tetap khawatir apakah itu cukup. Kini, setelah beberapa tahun, saya menyadari bahwa kekhawatiran ini adalah hal yang normal. Namun, seiring berjalannya waktu, saya juga belajar bagaimana mendampingi anak-anak saya dengan lebih efektif.

Pengalaman Pribadi dan Pelajaran Berharga

Berikut adalah beberapa pengalaman pribadi saya yang mungkin bisa menjadi pelajaran berharga bagi orang tua lainnya:

  1. Rutinitas Belajar yang Konsisten: Saya belajar bahwa membuat rutinitas belajar yang konsisten jauh lebih efektif daripada belajar dadakan menjelang ujian. Setiap hari, saya mencoba meluangkan waktu untuk duduk bersama anak-anak, membahas pelajaran hari itu, dan memastikan mereka memahami apa yang diajarkan di sekolah.

  2. Menggunakan Metode Belajar yang Menarik: Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Rina lebih suka belajar dengan membaca dan menulis catatan, sementara adiknya, Andi, lebih suka belajar melalui video dan permainan edukatif. Mengetahui metode belajar yang sesuai untuk setiap anak sangat membantu mereka memahami materi dengan lebih baik.

  3. Komunikasi dengan Guru: Saya sering kali berkomunikasi dengan guru untuk mengetahui perkembangan anak-anak di sekolah. Guru adalah sumber informasi yang sangat berharga. Mereka bisa memberikan pandangan tentang area mana yang perlu lebih diperhatikan dan bagaimana cara terbaik untuk mendukung anak-anak di rumah.

Tips Praktis untuk Orang Tua

Berikut adalah beberapa tips praktis yang bisa membantu orang tua dalam mendampingi anak-anak menghadapi masa ujian:

  1. Ciptakan Lingkungan Belajar yang Nyaman: Pastikan anak-anak memiliki tempat belajar yang nyaman, bebas dari gangguan, dan cukup terang. Lingkungan yang kondusif sangat membantu mereka untuk fokus belajar.

  2. Atur Jadwal Belajar yang Teratur: Buat jadwal belajar yang teratur dan realistis. Jangan lupa untuk menyertakan waktu istirahat agar anak-anak tidak merasa terbebani. Jadwal yang baik membantu anak-anak untuk belajar secara konsisten tanpa merasa tertekan.

  3. Berikan Dukungan Emosional: Masa ujian bisa menjadi waktu yang penuh stres bagi anak-anak. Berikan dukungan emosional dan dorongan semangat. Biarkan mereka tahu bahwa Anda ada untuk mereka dan siap membantu kapan saja.

  4. Gunakan Sumber Belajar Tambahan: Manfaatkan sumber belajar tambahan seperti buku latihan, aplikasi edukatif, atau video pembelajaran di internet. Ini bisa membantu anak-anak memahami materi dengan cara yang berbeda dan lebih menyenangkan.

  5. Libatkan Diri dalam Belajar Anak: Jika memungkinkan, luangkan waktu untuk belajar bersama anak-anak. Tanyakan tentang apa yang mereka pelajari, diskusikan topik-topik sulit, dan bantu mereka mengulang materi. Kehadiran dan keterlibatan Anda bisa memberikan motivasi tambahan bagi mereka.

  6. Kelola Ekspektasi: Ingatlah bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Jangan terlalu membebani mereka dengan ekspektasi yang tinggi. Fokuslah pada proses belajar dan usaha yang mereka lakukan, bukan hanya pada hasil akhirnya.

Pesan Khusus untuk Orang Tua

Sebagai orang tua, kita memiliki peran penting dalam mendampingi anak-anak belajar. Jangan sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab ini kepada guru. Guru memang berperan besar dalam pendidikan anak, tetapi dukungan dari orang tua di rumah sama pentingnya. Jika kita tidak bisa mendampingi secara langsung, carilah cara lain untuk memastikan anak-anak bisa belajar dengan baik, seperti menggunakan tutor atau mengikuti bimbingan belajar.

Kekhawatiran saat masa ujian adalah hal yang wajar, tetapi dengan dukungan yang tepat, kita bisa membantu anak-anak menghadapi ujian dengan lebih percaya diri dan tenang. Mari kita jadikan masa ujian sebagai waktu untuk mempererat hubungan dengan anak-anak dan mendukung mereka meraih yang terbaik.


Kamis, Oktober 19, 2023

Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga: Perjalanan Menuju Keseimbangan yang Sehat



Sebagai ibu, kita sering merasakan tekanan yang tak terduga dari masyarakat sekitar. Salah satu tekanan terbesar yang seringkali menjadi perdebatan adalah apakah seorang ibu sebaiknya bekerja di luar rumah atau tetap fokus sebagai ibu rumah tangga. Dua peran ini, meski sering dianggap berseberangan, sebenarnya memiliki tantangan dan keindahan masing-masing.


Menjaga Rumah dan Mencari Diri


Menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan yang mulia. Memiliki waktu yang lebih banyak di rumah memungkinkan seorang ibu untuk fokus sepenuhnya pada keluarga, memastikan setiap aspek kehidupan mereka terjaga dengan baik. Dari memasak makanan yang lezat, membersihkan rumah, hingga merawat anak-anak, peran ini memerlukan komitmen yang besar.


Namun, di tengah kesibukan itu, seringkali terjadi bahwa seorang ibu rumah tangga dapat kehilangan jati dirinya. Melalui blog atau kegiatan kreatif lainnya, seorang ibu rumah tangga dapat mengekspresikan bakat dan minatnya, mengasah kemampuan, dan tetap merasa memiliki identitas di luar perannya sebagai ibu dan istri.


Menyeimbangkan Karir dan Keluarga


Di sisi lain, menjadi ibu yang bekerja di luar rumah juga memiliki kepuasan dan tantangan tersendiri. Melalui pekerjaan, seorang ibu dapat mengejar ambisi dan kecintaannya terhadap karir, yang pada gilirannya dapat memberikan rasa pencapaian yang memuaskan. Selain itu, keuangan yang lebih stabil seringkali menjadi keuntungan tambahan bagi keluarga.


Namun, tak dapat disangkal bahwa bekerja di luar rumah memerlukan waktu yang lebih sedikit untuk keluarga. Terkadang, jadwal yang ketat dan tekanan di tempat kerja dapat membuat hubungan dengan pasangan dan anak-anak terasa terabaikan. Namun, dengan kemajuan teknologi dan fleksibilitas jam kerja, beberapa ibu berhasil menemukan keseimbangan yang tepat antara kehidupan profesional dan pribadi.


Mendefinisikan Kesuksesan dalam Konteks yang Berbeda


Ketika berbicara tentang kesuksesan, pandangan yang berbeda seringkali muncul dari kedua peran ini. Bagi sebagian ibu, kesuksesan diukur dari seberapa baik mereka dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan menyediakan lingkungan yang penuh kasih sayang. Sementara bagi yang lain, kesuksesan diukur dari pencapaian karir, pengakuan, dan kepuasan pribadi.


Namun, pada akhirnya, kebahagiaan dan kesuksesan sejati tidak mungkin diukur dengan parameter luar. Ketika seorang ibu merasa bahagia dengan pilihan yang dia ambil, merasa dicintai dan dihargai, serta mampu memberikan cinta dan perhatian kepada keluarga, itulah saatnya dia merasa telah sukses.


Menemukan Keseimbangan yang Sehat


Keseimbangan antara menjadi ibu yang bekerja dan ibu rumah tangga adalah kunci utama dalam menjalani kehidupan yang memuaskan. Penting untuk mengakui kelebihan dan keterbatasan dari masing-masing peran ini. Bagi ibu yang bekerja, merencanakan waktu dengan bijak antara pekerjaan dan keluarga dapat membantu menciptakan kedekatan yang tak ternilai harganya dengan anak-anak dan pasangan. Sementara itu, bagi ibu rumah tangga, mengambil waktu untuk diri sendiri, mengejar minat, dan tetap terhubung dengan dunia luar adalah langkah penting dalam memastikan kesehatan mental dan emosionalnya.


Memandang Tanpa Label


Kita harus memahami bahwa menjadi seorang ibu adalah tentang memilih jalan yang terbaik untuk keluarga dan diri sendiri. Tidak seharusnya ada label atau stigma yang melekat pada setiap peran tersebut. Setiap ibu memiliki kisah uniknya sendiri, tantangan yang unik, dan cara mereka sendiri dalam mencapai keseimbangan. Jadi, mari kita saling menghargai dan mendukung satu sama lain dalam perjalanan kita masing-masing.


Kesimpulannya, tidak ada jawaban yang tepat atau salah ketika datang ke peran ibu bekerja versus ibu rumah tangga. Yang terpenting adalah menemukan keseimbangan yang sehat dan memungkinkan kita untuk merasa bahagia dan puas dengan keputusan yang kita buat. Karena pada akhirnya, semua ibu memiliki satu tujuan yang sama, yaitu memberikan yang terbaik untuk keluarga mereka.


Minggu, Juli 30, 2023

Menemukan Motivasi Diri yang Tidak Pernah Padam


Setiap orang pasti pernah mengalami momen di mana semangat dan energi untuk mencapai tujuan meredup. Motivasi adalah pendorong utama yang mendorong kita maju dalam hidup, dan tanpanya, tantangan akan terasa lebih berat. Namun, dalam kehidupan yang penuh dengan hambatan dan perubahan, bagaimana kita bisa menjaga api motivasi tetap menyala di dalam diri? Artikel ini akan membahas tentang cara menemukan motivasi diri yang tidak pernah padam dan bagaimana mengasahnya agar selalu berkobar.


Mengenali Tujuan dan Nilai Diri

Langkah pertama dalam menemukan motivasi diri adalah mengenali tujuan dan nilai-nilai dalam hidup. Tanpa tujuan yang jelas, kita akan merasa kehilangan arah dan kesulitan menemukan motivasi untuk terus maju. Jika kita memiliki impian dan ambisi yang jelas, kita akan lebih termotivasi untuk berusaha mencapainya.


Selain itu, nilai-nilai pribadi yang kuat juga akan membantu mempertahankan motivasi. Nilai-nila tersebut adalah inti dari identitas kita sebagai individu. Ketika kita hidup sejalan dengan nilai-nilai tersebut, kita merasa lebih puas dan termotivasi untuk mencapai tujuan kita.


Mengatasi Rintangan dan Kegagalan

Dalam perjalanan mencapai tujuan, tidak jarang kita dihadapkan pada rintangan dan kegagalan. Bagaimanapun kerasnya usaha kita, ada kalanya rencana tidak berjalan sesuai harapan. Namun, penting untuk tetap teguh dan tidak menyerah saat menghadapi hambatan ini. Ketekunan adalah kunci untuk mempertahankan motivasi diri.


Alih-alih menyalahkan diri sendiri atau orang lain, gunakan kegagalan sebagai pembelajaran untuk menjadi lebih baik. Tantang diri Anda untuk bangkit kembali dengan semangat baru. Ingatlah bahwa setiap kesuksesan besar selalu diawali dengan kegagalan kecil.


Menemukan Inspirasi dari Teladan

Saat merasa motivasi menurun, penting untuk mencari inspirasi dari orang-orang yang telah mencapai prestasi besar dalam hidup. Teladan bisa berasal dari tokoh-tokoh inspiratif dalam sejarah, pemimpin yang karismatik, atau bahkan orang-orang di sekitar kita yang telah mencapai kesuksesan dalam bidang yang sama.


Kisah-kisah kesuksesan mereka bisa menjadi sumber dorongan yang kuat untuk menjaga semangat berkobar. Belajar dari pengalaman dan perjuangan mereka akan memberikan wawasan berharga tentang bagaimana menghadapi tantangan dan mencapai tujuan.


Menciptakan Lingkungan yang Mendukung

Lingkungan tempat kita berada juga memiliki dampak besar terhadap motivasi diri. Pastikan Anda berada di lingkungan yang positif dan mendukung. Hindari lingkungan yang meracuni pikiran dengan gosip negatif atau ketidakpercayaan diri. Sebaliknya, carilah lingkungan yang memupuk semangat, inspirasi, dan kolaborasi positif.


Bergaul dengan orang-orang yang memiliki semangat tinggi juga akan menular pada diri Anda. Dukungan dari orang-orang di sekitar dapat menjadi daya dorong yang luar biasa untuk terus berjuang dan mencapai tujuan.


Mengatur dan Merayakan Kemajuan

Ketika Anda menetapkan tujuan, penting untuk memecahnya menjadi tugas-tugas yang lebih kecil dan terukur. Merencanakan langkah demi langkah ini akan membuat tujuan terasa lebih mudah dicapai dan memberikan penghargaan ketika berhasil menyelesaikan setiap langkah.


Saat mencapai kemajuan, jangan ragu untuk merayakannya. Pujilah diri sendiri atas usaha yang telah dilakukan dan nikmati hasilnya. Merayakan kemajuan akan memberikan hadiah positif bagi pikiran bawah sadar Anda, sehingga semangat untuk terus maju akan terus bertahan.


Motivasi diri adalah api yang hidup di dalam diri kita. Untuk menjaga api ini tetap berkobar, kita perlu mengenali tujuan dan nilai-nilai pribadi, mengatasi rintangan dan kegagalan, menemukan inspirasi dari teladan, menciptakan lingkungan yang mendukung, dan mengatur serta merayakan kemajuan.


Ingatlah bahwa motivasi bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, tetapi adalah hasil dari perjuangan dan dedikasi untuk meraih impian kita. Dengan menjaga semangat dan tekad yang kuat, kita dapat mengasah api dalam diri dan menemukan motivasi diri yang tidak pernah padam, sehingga dapat mencapai kesuksesan yang kita inginkan dalam hidup.


Kamis, April 06, 2023

Belajar Menulis, Yuk! Udah Bisa Semua Kan?

 


Menulis adalah suatu keahlian yang tidak bisa dimiliki oleh semua orang. Tapi bukan berarti semua orang tak bisa mempelajari bagaimana cara menulis yang baik dan benar. 


Beberapa waktu terakhir ini, kegiatan tulis menulis makin naik daun ya. Terlihat di berbagai media sosial, tak sedikit orang-orang yang berada di friendlist kita, yang awalnya nggak pernah post karya tulisan (bukan status yang bersifat curhat atau status gaje ya). Kini jadi rajin ngepost karya-karyanya yang berupa tulisan. Ada tulisan fiksi atau non fiksi.

Juga terlihat semakin banyak grup dan komunitas literasi bahkan kelas menulis, baik yang berbayar atau pun yang bersifat sosial alias free atau gratis. Apalagi beberapa hari sebelum ramadhan menyapa, banyak penerbit yang mengadakan event menulis atau  program menulis bareng dengan tema yang sesuai dengan saat ini, yaitu seperti, mudik, lebaran, puasa para perantau, bersama melawan corona dll.


Buat yang baru saja menekuni dunia literasi, pasti sedikit banyak akan mengalami yang namanya ‘demam panggung’ atau jadi bersikap ‘maju mundur cantik’ dan tak sedikit penyebabnya adalah, karena nggak pernah ngalamin kejadian yang sesuai dengan tema, malu atau nggak pede.


Sebenarnya, nggak perlu ngalamin menjadi sosok dalam tulisan kita sendiri untuk bisa menuliskan tema yang ada. Maksudnya, kita nggak perlu menjadi perantau dulu jika ingin bisa menulis tentang bagaimana sih para perantau menjalani hari-hari puasanya saat berada jauh di kampung halaman. Tapi kita bisa menulis dari pengalaman orang terdekat atau mencoba membayangkan menjadi sosok tersebut. Intinya, tingkatkan dan liarkan daya imajinasi kita.


Lantas gimana memulainya? Berikut sedikit tips dari pengalaman TS ya,

1. Beri Feel Pada Setiap Tulisan




Tulisan yang klik adalah tulisan yang bisa menghantarkan feel, aura kepada pembacanya. Gimana caranya? Tak lain dan tak bukan adalah dengan fokus dan teruslah menulis.
Fokus adalah memusatkan perhatian. Jenis tulisan apa yang ingin kita tekuni. Banyaknya macam genre dan jenis tulisan terkadang menggoda kita untuk mempelajari semuanya. Padahal itu adalah suatu kesalahan yang seringkali diabaikan oleh para penulis pemula. Tak salah memang mempelajari semua jenis tulisan dan macam-macam genre yang ada, tetapi perlu diingat kalau kemampuan setiap kita berbeda-beda. Ada yang sekali dikasih tahu langsung paham, tetapi ada yang harus dikasih tahu berkali-kali dengan penjelasan yang berbeda baru mudeng hehehe. Jadi sebaiknya, fokus satu macam atau satu jenis dan tingkatkan jam terbang menulis kita. Kalau udah lancar ibarat sambil merem pun tulisan jadi, baru beralih mempelajari genre atau jenis tulisan yang lainnya.


2. Diksi yang Indah

Belajar Menulis Yuk! Udah Bisa Semua Kan?

Apa itu diksi? Menurut KBBI diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).

Lantas, bagaimana caranya supaya kita bisa memiliki diksi yang baik dan tepat? Caranya bisa karena banyak hal, bisa dari banyak membaca, sering menonton atau bisa juga karena sering berinteraksi/bersosialisasi dengan banyak orang. Intinya semakin sering kita menerima asupan kata maka semakin bagus diksi yang bisa kita rangkai.

3. Alur Cerita yang Runut

Seperti apa alur cerita yang runut itu? yaitu alur cerita yang tanpa cela. Istilah mudahnya adalah cerita yang masuk akal dalam logika banyak orang. Tapi nggak semua genre aturan ini berlaku ya. Ada beberapa genre seperti genre fantasy, alur yang tak masuk akal atau bahkan cacat logika sekalipun, terkadang masih bisa diterima dalam dunia literasi.

Sebuah tulisan jika kita tulis dengan fokus, diksinya tepat dan alur ceritanya runut. Itu udah bagus banget dan akan lebih terlihat keren dan indah dipandang jika diiringi dengan kaidah penulisan yang baik dan benar. Seperti tanda baca, penempatan huruf kapital dll

Udah capek belum bacanya? Kalau udah, berarti kita sama, TS juga udah mulai capek nulis ini hahaha, semoga tips di atas tadi bermanfaat dan kalau ada yang punya tips keren lainnya, boleh banget ya kita diskusi dengan bijak di kolom komentar.

Tetap semangat menulis dan menulislah kebaikan, agar kelak tulisan-tulisan kita bisa menjadi wasilah amal baik yang kembali ke diri kita sendiri. 

4 Jangan yang Harus Dihindari Saat Bermain Sosmed, Khususnya Saat Berpuasa. Apa Ya?



Tak terasa sudah setengah bulan kita melakukan ibadah puasa (bagi yang menjalankannya) artinya, setengah jalan lagi kita akan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1444 H


Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
Welcome to My Blog, apa kabar?
Lama banget nih, nggak nulis
Btw, gimana puasanya?

Menjalankan ibadah puasa yang masih diwarnai oleh COVID-19 sedikit banyaknya, kadang membuat kita lebih mati gaya ya.

Kalau di bulan puasa tahun sebelumnya, kita masih bisa hang out ama teman dan keluarga untuk ngabuburit atau bukber. Sekarang, jangankan untuk yang bersifat santai, yang bersifat profesional atau pendidikan pun tetap dilakukan di dalam rumah demi cepat berakhirnya pandemi.

Sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan di bulan puasa meski hanya di dalam rumah aja, apalagi dengan bantuan teknologi yang makin canggih, yaitu berupa aplikasi komunikasi yang bisa menghubungkan kita dengan banyak orang dalam satu waktu dan aplikasi sosial media.

Untuk membunuh waktu dan supaya tidak mati gaya, dua aplikasi tersebut sangat membantu, apalagi mengingat udah banget aplikasi sosial media di zaman ini, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan yang lainnya.

4 'Jangan' yang Harus Dihindari Saat Bermain Sosmed, Khususnya Saat Berpuasa. Apa Ya?

Namun, meski sosial media bersifat dunia maya, terkadang ada juga beberapa dari kita yang kehidupan sehari-harinya bisa dipengaruhi oleh kehidupan di sosial media. Yang tadinya kita bangun dalam keadaan happy, pas main sosmed, baca komentar, status atau postingan yang bikin kesel, eh hilang deh tuh rasa happynya dan uniknya malah berganti jadi bad mood yang berakibat nggak bagus buat diri sendiri dan orang terdekat kita.

Ada yang bilang, untuk menghindari hal yang nggak enak tadi, apalagi di bulan puasa kayak sekarang. Sebaiknya off dulu main sosmednya, tapi karena pandemi, sosmed malah jadi salah satu solusi untuk kita menghilangkan rasa boring karena nggak bisa ke mana-mana.

Walaupun dunia maya, tapi kehidupannya nggak berbeda jauh dengan dunia nyata. Hanya cara komunikasinya aja yang berbeda. kalau di dunia maya lebih banyak memakai bahasa tulisan, di dunia nyata lebih banyak memakai bahasa lisan. Nah, TS pribadi ada sedikit tips sehat bermain sosmed, khususnya di bulan ramadhan saat pandemi agar kestabilan emosi kita tetap terjaga. Yaitu,

1. Jangan Baper

Karena menggunakan bahasa tulisan, terkadang maksud yang ingin disampaikan nggak bisa tersampaikan dengan baik dan benar. Baca tulisan ada tanda seru berderet rapi kayak antrian sembako tidak pada tempatnya, bikin emosi, padahal yang nulis nggak ada maksud untuk mancing emosi, cuma kebetulan aja penulis demen ama pentungan hansip makanya selalu ada di setiap tulisannya. Sayang juga kan puasa kita.

2. Jangan Ge-eR



Akhir-akhir ini, ada juga istilah kaum buciners. Konon ada yang bilang bucin adalah budak cinta. klikbudak cinta di sini bukan seperti orang yang bisa disuruh dalam arti negatif ya, tapi budak di sini adalah orang yang lebih mudah atau sering mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya secara terang-terangan. Nah, kalau kalian ketemu orang yang kayak gini, apalagi baru kenal, jangan langsung berpikir “Duh, kayaknya doi suka nih ama gue,” karena bisa jadi, orang yang baru kamu kenal, memang tipikal seperti itu tanpa punya maksud buruk apa-apa.

3. Jangan Latah



Latah adalah meniru atau ikut-ikutan, baik perbuatan atau perkataan. Sebenarnya wajar ya, kalau kita atau ada orang yang mengikuti gaya atau cara kita. Tapi, lagi-lagi kudu pinter-pinter melihat, nggak semua perbuatan atau ucapan orang lain harus kita tiru apalagi sampai kita lestarikan. Kalau yang mau kita tiru ada perbuatan baik, fine-fine aja, tapi kalau perbuatan jelek, please, jangan ya. Cukuplah kita menjadi wasilah rantai kebaikan, apalagi di bulan ramadhan ini.

4. Jangan kepo



Sepertinya banyak yang belum tau ya, kalau kepo adalah kepanjangan dari kalimat Knowing Every Particular Object. Ada yang bilang kalau kepo dan perhatian itu beda tipis, dan TS setuju dengan pernyataan itu. Tapi bukan untuk sesuatu yang berlebihan dan bersifat negatif ya, kalau hanya sekadar menanyakan kabar atau status udah nikah atau belum atau tinggal di kota apa, kayaknya masih taraf wajar kan ya? Yang nggak wajar adalah sampe detail menanyakan masalah pribadi tanpa ada permulaan dari yang bersangkutan.

Bersosialisasilah dengan cara yang baik dan bijak, termasuk dalam dunia maya. Tetap santuy, yes? 😘

Tetap semangat dan jaga kesehatan meski ramadhan tahun ini pandemi ikut mewarnai. Tingkat daya imun diri sendiri dan keluarga, selalu berpikir positif dan terus berkarya, ya!

Minggu, September 26, 2021

Muhasabah Cinta


Beberapa waktu terakhir, tiba-tiba saya merasa mual dan langsung pusing ketika harus melakukan kegiatan yang sudah menjadi rutinitas saya sehari-hari. Padahal kegiatan tersebut sukses telah mengalahkan waktu jam makan saya. Bahkan saking seringnya melakukan hal tersebut, ketika mata saya udah sangat terasa lelah, dan ingin terpejam beberapa menit, pikiran saya masih tertahan di kegiatan tersebut.

Sampai pernah, saya harus rela menghabiskan beberapa malam saya untuk melakukan kegiatan tersebut. Bukan sebuah keterpaksaan, tetapi sebuah kesenangan. Siapa yang tak senang melakukan hobi yang dibayar. Ya, walaupun sempat menjadi pribadi yang mode senggol bacok karena kurang istirahat 🤭😆🙈

Membaca adalah hobi saya setelah nonton. Saya menyukai semua bacaan yang ditulis dengan kalimat sederhana, baik itu fiksi ataupun non-fiksi. Karena itu kecintaan saya terhadap buku melebihi kecintaan saya terhadap menulis.

Bukan, bukan karena tak ada isi kepala saya yang tak ingin saya tuang dalam bentuk tulisan, tetapi kecepatan jari saya terkadang tak mampu mengimbangi isi kepala saya yang terkadang sangat banyak, dengan baik. Namun, berkat keterbatasan jari saya tersebut, saya jadi pencerita yang cukup baik, kala menghabiskan waktu bersama suami dan anak-anak saya. 

Bahkan ketika saya sedang mengalami masa tertekan karena kelalaian saya yang tidak bisa memberikan hak badan saya untuk beristirahat, jari saya sudah tak mampu menuangkan kekesalan saya terhadap diri saya sendiri. Namun, saya jadi belajar satu hal. Ketika kita merasa tertekan dan kepala terasa ingin pecah menahan beban, yang kita butuhkan hanya sharing. 

Ya, sharing dengan orang-orang terdekat, yang dapat dipercaya dan orang yang bisa memberi kita energy positif ketika kita sedang di masa down. Konon, banyak yang mengatakan, kalau solusi dari setiap permasalahan hidup adalah hanya waktu. Karena tanpa usaha pun semua pada akhirnya akan kembali membaik. Namun, kita lupa, waktu hanya sebuah barometer, selama apa kita bertahan dalam keadaan yang tak menyenangkan. Dan sebesar apa kita merasa rugi dengan waktu yang terbuang dengan sia-sia.

Padang, 25 sept 2021

#SelaluAdaCeritaDalamSebuahFoto 
#CeritaUmmuMuthmainnah

Senin, Agustus 23, 2021

Setitik Harap dan Doa


Semua orang yang hadir di rapat guru dengan kepala sekolah secara virtual, kembali menghela napas berat.

"Tapi PBM daring nggak efektif, Ustad," ucap salah seorang guru wali kelas kecil. "Anak-anak masih ada beberapa yang belum lancar membacanya."

Seseorang yang dipanggil Ustad merupakan orang no satu dalam lembaga pendidikan tersebut.

"Para orang tua juga mulai resah, Ustad. Apalagi yang memiliki anak lebih dari dua. Fasilitas mereka terbatas." Seorang guru yang memiliki empat anak, juga ikut berpendapat, seolah-olah sedang mewakili perasaan para orang tua murid di luar sana.

"Saya paham, Ustad dan Ustadzah sekalian. Tapi Qodarullah, ini semua di luar kendali kita." Sosok yang telah menjadi kepala sekolah selama tiga tahun terakhir, mencoba menenangkan semua para pengajar yang sangat terlihat jelas raut kegelisahan di wajah mereka. "Saat ini kita hanya bisa berdoa, semoga masa pandemi segera berlalu minimal PPKM tidak diperpanjang lagi, supaya anak-anak kita bisa kembali belajar di sekolah."

Semua orang yang hadir segera meng-aamiin-kan doa dan harapan sang kepala sekolah tempat mereka memberikan pengajaran kepada anak-anak tunas bangsa.

***

Gedung bertingkat dua dengan belasan ruang yang selalu digunakan untuk kegiatan belajar mengajar terlihat masih sepi. Hanya satu atau dua anak yang terlihat, dan itu pun anak dari salah satu pengajar di sekolah tersebut yang ikut serta karena proses belajar mengajarnya dilakukan di ponsel sang ibu yang selalu dibawa.

"Baik anak-anak, kita cukupkan belajarnya sampai di sini dulu, ya," ujar seorang wali kelas empat saat akan mengakhiri KBM.

"Ya ... kok cepet banget, Ustadzah?" keluh salah seorang anak yang hadir, karena ia belum mengerti dengan materi yang disampaikan gurunya dikarenakan sinyal yang sedikit menganggu saat kegiatan belajar mengajar tadi.

"Besok kita lanjutkan lagi ya, Nak. Ustadzah harus menelepon teman-teman yang lain." Guru yang biasa dipanggil dengan sebutan ustad dan ustadzah itu mencoba memberi pengertian kepada anak muridnya.

"Tapi, keisya belum ngerti, Ustadzah." Seorang anak yang lain menyampaikan apa yang ia rasakan.

"Nanti japri Ustadzah klo ada yang belum ngerti ya, Nak. Ustadzah coba bantu jelaskan lagi."

Lima orang anak yang hadir kala KBM daring itu hanya diam, seperti tahu harus mengatakan apalagi.

"Baik, Ustadzah pamit dulu, ya, anak-anak. Assalamu'alaykum."

"Wa'alaykumussalam, Ustadzah. Syukron, Ustadzah," ucap beberapa anak-anak menjawab salam kepada guru mereka dan mengucapkan rasa terima kasihnya.

"Afwan, Nak."

Tak lama kegiatan belajar itu pun selesai. Sosok guru yang baru saja menyelesaikan sebagian tugasnya hari ini, kembali mengembuskan napasnya, dan tak lama ada rasa haru serta rindu yang berbaur memaksa masuk ke dalam relung hatinya.

Terharu karena ucapan "Syukron" yang selalu ia terima dari beberapa anak muridnya saat kegiatan belajar mengajar secara virtual akan selesai, dan rindu ingin bertemu kembali dengan mereka semua tanpa ada batas waktu dan ruang.

Sedetik kemudian, setetes air mata telah mengalir tanpa diminta dari pelupuk mata. Kembali sosok yang dipanggil ustadzah oleh anak-anak muridnya, menarik napas dan membuangnya dengan perlahan.

Kembali setitik harapan ia tanamkan dalam benaknya. Menyakini selalu takdir yang terjadi, bahwasanya pasti ada hikmah di balik setiap peristiwa. 


Minangkabau, 23 Agustus 2021

Minggu, Juli 25, 2021

Sebuah Pengakuan


Bismillah

Memiliki, tetapi tak diakui.
Pasti di antara kita pernah mendengar kalimat itu. Sekilas seperti sebuah legalitas. Namun, ada yang mengatakan pengakuan dan legalitas adalah dua hal yang berbeda.

Mungkin saya adalah salah satu yang termasuk ke dalam kelompok yang mengatakan bahwa pengakuan dan legalitas adalah dua hal yang sama.

Saat kita mempunyai orang yang sangat disayang dan orang tersebut juga menyayangi kita, tetapi orang tersebut tak mau mengakui kita di hadapan orang banyak, pasti rasa sedih dan kecewa yang menghantui kita.

"Kenapa aku nggak diakui?"
"Kurangku apa, kok sampai nggak diakui?"

Kurang lebih, pasti pertanyaan seperti itu yang mampir dalam ruang pikir kita.

Sama halnya ketika kita mempunyai kemampuan dan kapasitas dalam suatu bidang tertentu. Saat kita sudah berusaha semaksimal dan memberikan yang terbaik untuk orang lain, tetapi apa yang telah kita lakukan tak mendapatkan pengakuan apa-apa dari berbagai pihak. Tentu ada rasa sesak yang memaksa menyelinap masuk ke dalam rongga dada ini.

Dulu, pengakuan tak terlalu dipertimbangkan atau tak begitu dipentingkan. Namun, makin canggih dan berkembangnya kemampuan masyarakat zaman sekarang, tentu pengakuan secara lugas sangat dibutuhkan bagi setiap orang demi persaingan yang sehat dan berkompeten.

Tak usah jauh-jauh, orang terdekat bisa menjadi ajang tempat untuk seseorang mencari sebuah pengakuan sesuai keahliannya. Baru setelah itu, mouth to mouth, bisa mengantarkan kita untuk mendapatkan sebuah pengakuan yang lebih luas dan akurat.

Namun, jika pada kenyataannya orang terdekat saja tak mau memberikan kita sebuah pengakuan atas apa yang sudah kita berikan atau atas kemampuan kita, maka kemungkinan kecil orang lain atau masyarakat luas bisa mengetahui kemampuan yang kita miliki dalam menguasai suatu bidang tertentu.

Saat itu terjadi, hati-hati, bisa jadi memang diri kita yang belum memiliki kemampuan yang seperti mereka bayangkan. Karena, teorinya jika orang lain mengakui kemampuan kita dan mereka puas dengan kinerja kita, maka secara otomatis, tanpa diminta mereka sendiri akan mengatakan kepada dunia, bahwa kita memang berkompeten dalam bidang tersebut.

Sebuah Pengakuan, testimoni, adalah hal yang sepele, tetapi sangat memiliki pengaruh yang amat besar bagi orang lain untuk masa yang akan datang.

Jika ada masa di mana belum ada pengakuan dari orang lain tentang kapasitas kinerja kita, maka jadikanlah masa itu menjadi sebuah cambuk untuk kita supaya lebih meningkatkan kualitas kinerja kita. Dan yakinlah, usaha tak kan pernah mengkhianati setiap usaha.

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ


Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 233) Klik


***

Minangkabau, 25 Juli 2021 / 23.58

Minggu, Juli 11, 2021

Ingin Anak Menjadi Penghafal Al-Qur’an? Yuk Ajari dengan Cara Menyenangkan.


Anak dilahirkan dalam keadaan bersih dan suci. Orang tuanya lah yang menjadi tonggak utama, akan menjadi seperti apa sang anak di masa yang akan datang. Sebagai orang tua, pasti semua menginginkan anak menjadi orang sukses dan membanggakan kita kelak, terlepas apakah dia anak laki-laki atau anak perempuan.

Sejatinya anak laki-laki atau anak perempuan adalah sama. Sama-sama sebuah anugerah dari Yang Maha Esa. Saat masa kecil, jika kita para orang tua mewarnai mereka dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan kelak dia akan menjadi anak yang baik. begitu juga sebaliknya.

Salah satu cara mewarnai mereka di saat masih kecil adalah dengan mengajak mereka belajar dan menghafal Al-qur’an. Konon, sebagian orang mengatakan kalau belajar dan menghafal Al-Qur’an hanya cocok untuk anak yang memiliki daya ingat yang tajam dan kuat. Namun, nyatanya semua kembali dengan bagaimana cara menerapkan kepada sang anak.

Anak-anak adalah dunia bermain. Ajaklah mereka bermain sambil belajar dan menghafal Al-Qur’an. Karena bermain adalah salah satu cara yang menyenangkan bagi sebagian anak.
Berikut ada beberapa cara menyenangkan, yang bisa diterapkan para orang tua kepada anak-anak di rumah.

1. Ajak Anak Nonton Video Animasi Menghafal Al-Qur’an

Hampir sebagian besar anak, pasti suka menonton. Apalagi kalau film yang ditonton adalah film kartun atau film animasi anak yang seusia mereka. Bahkan anak yang menjelang remaja pun juga masih ada beberapa yang menyukai film kartun anak tersebut. cara mengajak anak menonton video animasi menghafal Al-Qur’an ini cukup menyenangkan buat anak-anak dan cukup efektif jika diputar berulang-ulang. Mereka tidak menganggap kalau mereka sedang belajar. Padahal mereka sedang menghafal secara tidak langsung. Ajak mereka menonton video menghafal Al-Qur’an ini disela-sela jam bermainnya atau saat mereka sedang melakukan gerakan tutup mulut.

2. Gunakan Flash Card Huruf dan Kalimat Hijaiyah.


Banyak sekali beredar di pasaran, flash card, atau kartu cepat yang bergambar huruf hijaiyah, angka, gambar nama buah, kendaraan bahkan nama kosakata dalam bahasa asing yang lainnya. Dalam kartu tersebut huruf atau gambar tertentu dibuat dengan desaign yang cerah dan penuh warna. Hal itu supaya dapat menarik anak dan anak merasa senang saat belajar. Sama dengan menghafal. Para orang tua harus bisa berkreasi membuat kartu yang bertulis ayat-ayat surat Al-Qur’an jika ingin anak bermain sambil menghafal. Bisa dibuat dari kardus kotak susu kertas karton yang agak tebal, lalu dihias atau diwarnai supaya anak suka untuk melihat dan membaca lama-lama.

3. Biasakan Anak Mendengar Al-Qur’an

Percaya atau tidak, alam bawah sadar anak akan merekam semua yang ia lihat dan ia dengar. Makin sering anak mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, maka makin cepat anak menghafal apa yang ia dengar. Buat jadwal untuk menghafal setiap suratnya. Misalkan: Minggu pertama, surat Al Ikhlas. Minggu kedua surat Al Falaq dan seterusnya. Oh ya, ada salah satu artikel di media sosial Dari Ibu Untuk Ibu yang bisa dijadikan rekomendasi oleh para orang tua dalam menentukan surat apa saja yang mudah dihafal, 
  

4. Main Kuis atau Sambung Ayat 

Permainan ini juga cukup menarik minat dan semangat anak dalam menghafal Al-Qur’an. Sama halnya ketika anak sedang mengikuti lomba Cerdas cermat. Orang tua membacakan salah satu ayat surat yang telah dihafalkan anak, lalu anak harus menyambung ayat berikutnya. Saat anak berhasil menyebutkan ayat berikutnya, biasanya anak akan merasa bahagia. Dan, sebagai bentuk apresiasi kepada anak, tak ada salah jika orang tua memberi sebuah reward yang bisa membuat anak lebih bersemangat lagi dalam menghafal.

5. Buat Irama Dalam Menghafal

Zaman sekarang, musik adalah salah satu yang sering kita dengar. Baik dalam pergaulan anak-anak bersama temannya, atau saat mereka sedang menonton di rumah. Cara ini bisa para orang tua ATM. Amati, Tiru dan Modifikasi. Saat mengajak anak membaca dan menghafal Al-Qur’an, supaya lebih enak dan anak merasa nyaman. Para orang tua bisa perdengarkan kepada anak-anak, suara penghafal Al-Qur’an yang menggunakan irama. Salah satu contohnya adalah M. Taha Al Junaid. Meskipun saat ini beliau bukan anak-anak lagi, tetapi rekaman suara beliau saat masih anak-anak bisa kita temui di youtube dan lain-lain.

Masih banyak lagi hal menarik dan menyenangkan yang bisa kita, para orang tua, khususnya para ibu untuk mendidik dan mengasuh anak di rumah demi menjaga suasana rumah tetap nyaman dan anak-anak betah di dalamnya. Dalam media sosial Ibupedia, https://www.ibupedia.com banyak sekali tips dan info menarik yang bisa dijadikan referensi untuk para ibu di rumah yang berkaitan dengan dunia ibu dan anak.

Semoga tulisan ini bermanfaat, mari para ibu, kita sama-sama menjaga daya imun anak dan semua anggota keluarga yang lain, dengan tetap selalu memperhatikan dan menerapkan protokol kesehatan. Stay safe, stay healthy dan stay fight!

Minangkabau, 11 Juli 2021
Sumber Foto: Klik di sini

Rabu, Juli 07, 2021

Saat Tak Bisa Menepati Janji Kepada Anak, Lakukan 5 Hal Berikut!


Sepertinya saat ini sedang di masa penghujung liburan bagi anak-anak sekolah, ya. Para orang tua pasti udah jauh-jauh hari sudah mulai mempersiapkan mereka untuk menyambut hari sekolah di kelas yang baru. Terkadang karena terlalu lama libur, anak-anak merasa enggan menyiapkan peralatan sekolahnya masing-masing. Berbagai upaya dan bahkan janji, terkadang kita ucapkan kepada anak-anak sebagai motivasi agar mereka bisa bersemangat menyambut hari sekolah mereka.

Senang bukan rasanya, ketika kita sebagai orang tua atau guru melihat anak-anak termotivasi dengan ucapan dan usaha kita. Pasti dalam benak mereka adalah, bagaimana caranya agar mereka mendapatkan hasil yang terbaik demi sesuatu yang mungkin saja, secara sadar atau tidak, telah kita ucapkan kepada mereka.

Namun, kadang adakalanya, karena sesuatu hal, kita sebagai orang tua yang memberi janji, tidak bisa menepati janji tersebut.

Tentu sebagai contoh bagi anak-anak, kita tidak bisa berpura-pura lupa atau tiba-tiba ingkar janji. Bagaimana pun juga anak kecil adalah calon orang dewasa yang baik buruknya tergantung bagaimana orang tua mewarnainya. Dan sangat wajar jika mereka juga memiliki rasa kecewa dan sedih seperti kita sebagai orang tuanya.

Berikut ada Lima cara untuk para orang tua mengantisipasi kekecewaan anak;


1. Minta Maaf

Kita semua pasti paham, meski kita tidak memiliki niat untuk membuat orang lain apalagi anak-anak kecewa, kita sebagai sih pembuat janji tetap kudu yang namanya minta maaf. Minta maaf karena bukan 100% kesalahan kita, serta merta tidak akan membuat kita menjadi orang yang buruk di mata mereka. Malah sebaliknya, secara tidak langsung kita memberikan contoh yang baik kepada mereka.

2. Berikan Penjelasan

Meski pemahaman anak-anak belum sematang kita sebagai orang tua, bukan berarti mereka tidak paham dengan ucapan atau penjelasan dari kita. Hanya saja, kosa kata mereka belum se-kaya kita, jadi harus gunakan bahasa yang mereka pahami atau bahasa sehari-hari mereka.

3. Berikan Pengganti Reward yang Kita Janjikan

Saat kita sudah menjelaskan alasan ketidakbisaan kita untuk menepati janji, dan anak-anak terlihat menerima. Bukan berarti di dalam hati mereka langsung plong dan langsung memaklumi. Yang namanya anak-anak, tidak hanya kemampuan motoriknya saja yang sedang berkembang, tapi kemampuan untuk mengelola emosi dan kemampuan untuk menerima takdir pun juga sedang berproses.

Berikan Pengganti atas janji atau reward kita sebelumnya. Tak harus sama persis, tapi setidaknya bisa mengobati kekecewaan mereka.

4. Berikan Pujian

Memaklumi sesuatu yang tidak kita inginkan, tentu tidak semua orang dewasa bisa. Anak-anak pun demikian, maka tak ada salahnya, saat mereka mulai sedikit bisa menerima alasan kita, berikan pujian atas sikap lapang dada mereka.

5. Ucapkan Terima Kasih

Mengucapkan terima kasih tidak hanya karena kita menerima bantuan atau kebaikan dari orang lain. Tapi saat anak-anak bisa bersikap dewasa dan mampu memaklumi keterbatasan kita sebagai orang tua, maka tak ada salahnya ucapan terima kasih kita haturkan kepada mereka yang diiringi dengan pelukan hangat.

Minangkabau, 7 Juli 2021

Rabu, Juni 02, 2021

Pintamu

Pintamu 
Oleh: Fitri Junita

“Andai aku menjadi seseorang yang ia idamkan, aku yakin, ia tak kan pergi meninggalkanku.”
Anjas menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Antara kasihan dan gemas karena sikapku yang terkesan tak punya harga diri.

“Jangan berandai-andai, Bram. Berubahlah.”

Apa yang dikatakan laki-laki yang telah lama menjadi sahabatku ini, benar. Aku harus berubah. Namun, bisakah aku berubah seperti yang diinginkan Laila? Ah, rasanya mustahil!

“Untuk apa? Lagipula, wanita itu telah pergi meninggalkanku.”

Embusan napas berat Bram terdengar jelas di indera pendengaranku.

“Setidaknya, berubahlah untuk dirimu sendiri.” Kami terdiam sesaat. “Siapa tau, esok kamu akan bertemu lagi dengan wanita yang lebih baik dari pada Laila," ucapnya lagi.

Ah, rasanya tidak mungkin aku akan bertemu dan bisa mencintai wanita lain. Rasa cinta yang kumiliki sudah habis dibawa pergi oleh wanita berparas ayu dan lemah lembut, yang baru beberapa hari meninggalkanku hanya karena materi. Ya, materi!

“Bagaimana caranya, Anjas?” tanyaku untuk menyenangkan hatinya.

“Bekerjalah lebih giat dan bersikaplah seperti seorang pemimpin. Tunjuk dan buktikan, kalau kamu adalah laki-laki yang bisa diandalkan olehnya setiap saat. Bukan seperti parasit, yang hidup hanya menjadi beban orang lain.”
 
Aku tercengang dan mematung cukup lama. Saking lamanya, Anjas pergi pun aku tak menyadarinya.

Benarkah selama ini, aku seperti parasit?

Tanpa sadar, tawaku menggema di ruang tamu sebuah rumah kecil yang baru kubeli sebagai hadiah pernikahan untuknya. Hingga tak terasa, bulir bening telah membasahi kedua pipiku. Semenyedihkan inikah kehidupan seorang Bram? 

Berhari-hari aku mengurung diri di dalam rumah. Cuti kerja kuambil secara mendadak. Pihak HRD kantor tempatku bekerja bahkan sempat memarahi, tetapi aku beruntung karena atasanku yang juga sepupu dari pihak mama, bisa memahami kondisiku saat ini.

Terlihat cengeng dan seperti seorang pecundang. Hanya karena seorang wanita, aku merasa terpuruk seperti ini. Namun, bukan karena itu aku membatasi ruang gerakku sendiri. 

Kata-kata parasit, kini bagai bayangan gelap yang selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi. Bagaimana bisa aku dianggap sebagai benalu oleh orang lain bahkan oleh orang yang amat berarti dalam hidupku. Selama ini hasil keringatku sudah kuberikan semua untuknya. Bahkan aku mempercayakan semua kepadanya termasuk dalam setiap mengambil keputusan.

Bukan aku tak bisa mengambil keputusan, tetapi karena aku sangat mencintai dan menghargainya, kupercayakan semua kepadanya. Mengapa Laila tak bisa melihat itu semua sebagai bentuk rasa sayang dan cintaku kepadanya.

Seminggu sudah aku menyendiri dalam keterpurukan dan kebingungan. Pintu hati dan rumahku pun tertutup rapat. Tak kuizinkan siapa pun masuk ke dalam hidupku. Kini ... aku sudah siap, kembali berperan menjalankan takdirku sendiri.

Kulihat lagi untuk ke sekian kalinya, sebuah amplop coklat yang berlogo pengadilan agama di kota tempat aku menikahi Laila beberapa tahun yang lalu. Meski keherananku belum hilang sepenuhnya, apa alasan sebenarnya wanita cantik itu menggugat ceraiku, tetapi seperti biasa demi rasa sayang dan cintaku kepadanya, akan kuturuti permintaannya ... yang terakhir kalinya.

Minangkabau, 02 Junita 2021

Pesanan Bu Siti

  Aku pernah menikah selama dua tahun. Cerai di tahun ketiga. Prosesnya cepat, kayak mi instan—panas, berasap, dan bikin kenyang emosi. Lima...