Tampilkan postingan dengan label #Fiksi #DuniaUmmuMuthmainnah #SelaluAdaCeritaDibalikSebuahGambar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Fiksi #DuniaUmmuMuthmainnah #SelaluAdaCeritaDibalikSebuahGambar. Tampilkan semua postingan

Kamis, Mei 15, 2025

Menulis, Sebuah Kebiasaan Kecil dengan Dampak Besar

 


Pernahkah kalian merasa pikiran terlalu penuh, tapi sulit menjelaskan apa yang sebenarnya mengganggu? Atau justru kalian punya banyak ide, tapi semuanya beterbangan tanpa arah? Di sinilah menulis hadir sebagai alat sederhana yang bisa memberi kejelasan, ketenangan, bahkan arah.



Menulis bukan semata urusan para penulis atau jurnalis. Siapa pun bisa menulis. Bahkan, banyak orang menemukan bahwa rutinitas menulis—walau hanya lima belas menit sehari—telah membawa perubahan positif dalam hidup mereka. Mulai dari mengelola emosi, mencatat ide-ide penting, hingga menemukan kembali impian yang sempat terlupakan.



Salah satu tujuan utama dari menulis adalah untuk memahami diri sendiri. Saat menuangkan kata demi kata, sering kali kita menemukan hal-hal yang sebelumnya tersembunyi di balik rutinitas sehari-hari. Tak jarang, menulis juga menjadi bentuk terapi, cara untuk berdamai dengan masa lalu, dan langkah awal untuk merancang masa depan.

Selain itu, menulis juga mengasah kemampuan berpikir. Proses menyusun kalimat melatih kita untuk lebih runtut, logis, dan jernih dalam menyampaikan gagasan. Dalam dunia kerja, keterampilan ini sangat berharga. Bahkan dalam kehidupan pribadi, menulis bisa membantu kita menyampaikan perasaan dengan lebih tepat—baik dalam bentuk catatan harian, pesan untuk orang terdekat, maupun karya kreatif yang lebih luas.

Dan yang tak kalah penting: menulis bisa menjadi sarana berbagi. Apa yang kalian alami, rasakan, dan pelajari, bisa jadi sangat berarti bagi orang lain. Dari situ, terbuka kemungkinan untuk membangun koneksi, menciptakan karya, bahkan menginspirasi.

Jika kalian ingin mulai menulis tapi masih bingung harus mulai dari mana, saya sudah menyiapkan Jurnal Menulis  yang bisa kalian unduh secara gratis, khusus untuk para tamu blog saya. Panduan ini cocok bagi siapa saja yang ingin membangun kebiasaan menulis secara konsisten dan menyenangkan.

Senin, Maret 03, 2025

Surat Tanpa Nama di Kotak Amal (Fiksi)

 



Ramadhan selalu membawa suasana berbeda di sekolah. Entah karena jam pelajaran yang terasa lebih singkat, kantin yang tertutup hingga azan Maghrib berkumandang, atau sekadar semangat berbuka puasa bersama yang membuat sore hari terasa lebih menyenangkan.

 

Di bawah pohon ketapang besar yang berdiri di sudut halaman sekolah, tiga orang remaja duduk mengelilingi sebuah meja kayu panjang. Udara sore berhembus lembut, membawa aroma khas bulan puasa—campuran antara udara hangat, tanah yang mulai mendingin, dan samar-samar bau gorengan yang entah datang dari mana.

 

"Aku nggak nyangka kita udah setengah jalan puasa tahun ini," kata Faris, meregangkan kedua tangannya ke belakang sambil menghela napas puas.

 

Aisyah, yang duduk di seberangnya, menutup buku catatan di pangkuannya. "Masih dua minggu lagi, Far. Jangan senang dulu. Biasanya orang-orang justru mulai bolong puasanya di pertengahan."

 

Faris menyeringai. "Makanya, kita harus jaga semangat. Bukber terus setiap hari!"

 

Rafa, yang sejak tadi diam, hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada sesuatu di tangannya—selembar kertas kecil yang baru saja ia ambil dari saku bajunya. Tidak seperti Faris yang penuh energi atau Aisyah yang selalu tenang dan teratur, Rafa adalah tipe yang tidak banyak bicara. Namun, kehadirannya di antara mereka berdua sudah seperti keseimbangan yang tak tergantikan.

 

Matahari mulai merendah di ufuk barat, mewarnai langit dengan semburat oranye keemasan. Beberapa siswa masih terlihat duduk berkelompok, menunggu waktu berbuka. Sebagian lainnya sibuk berkeliling, mengumpulkan donasi untuk program Ramadhan sekolah.

 

Di dekat masjid sekolah, sebuah kotak kayu sederhana diletakkan di atas meja kecil. Tulisannya jelas: Harapan Ramadhan – Tulis doa dan harapanmu, masukkan ke dalam kotak ini!

 

Setiap tahun, sekolah mereka mengadakan program ini. Siapa saja bisa menuliskan harapan mereka, baik itu doa-doa pribadi, permintaan maaf, atau sekadar curhatan ringan tentang apa yang mereka rasakan selama bulan puasa. Tidak ada yang tahu siapa yang menulisnya, karena semuanya bersifat anonim.

 

Faris yang sejak tadi tidak bisa diam, tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah kotak amal itu. "Pernah kepikiran nggak sih, apa yang orang-orang tulis di sini?" tanyanya sambil mengetuk-ngetuk kotaknya dengan ujung jarinya.

 

Aisyah mendesah. "Faris, itu bukan buat dibaca orang lain."

 

"Aku cuma penasaran," katanya, mengambil salah satu kertas di atas tumpukan. "Siapa tahu ada yang menulis sesuatu yang menarik."

 

Aisyah mendelik, tetapi Faris sudah lebih dulu membuka lipatan kertasnya. Rafa, yang tadinya tidak tertarik, kini ikut melirik ke arahnya.

 

"Apa isinya?" tanya Rafa akhirnya.

 

Faris membaca pelan, dan ekspresinya berubah dalam hitungan detik. Senyum jahilnya menghilang, berganti dengan keterkejutan yang sulit disembunyikan.

 

"Eh...." Ia menelan ludah, menatap Aisyah dan Rafa bergantian. "Ini … kayaknya salah satu dari kita yang nulis."

 

Aisyah mengerutkan kening. "Maksudmu?"

 

Faris mengangkat kertas itu, memperlihatkan tulisan tangan yang rapi tetapi sedikit goyah.

 

"Aku menyukai seseorang di antara kita bertiga, tapi aku tidak tahu apakah ini hanya perasaan sesaat atau sesuatu yang lebih dalam. Semoga Allah memberi petunjuk."

 

Angin sore berhembus pelan. Tiga pasang mata kini terpaku pada secarik kertas di tangan Faris.

 

Tak ada yang berbicara untuk beberapa detik. Namun, di antara mereka bertiga, ada satu yang tahu lebih banyak dari yang lain.


---------------


In syaa Allah next ke part selanjutnya


Jangan Menyerah pada Takdir yang Belum Selesai

 Tentang Bertahan, Meluruskan Niat, dan Menjemput Keberkahan Ada hari-hari ketika semuanya terasa berat. Pekerjaan menumpuk, target belum te...